2
Tampilkan postingan dengan label Etika Belajar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Etika Belajar. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 20 Februari 2010

Usaha Keras

Sebaiknya pelajar berusaha memaksa diri sendiri untuk meraih ilmu, bersungguh-sungguh dan rajin dengan cara menghayati keutamaan ilmu.

Karena sesungguhnya ilmu itu abadi, sedang harta benda itu akan binasa. Sebagaimana yang katakan oleh Ali bin Abu Thalib ra :


  • "Aku rela dengan bagian yang diberikan oleh Allah ilmu untukku dan harta benda untuk musuh-musuhku.

  • Karena harta benda akan binasa dalam jangka pendek, sedang ilmu akan abadi dan tidak akan musnah."


Ilmu yang bermanfaat mengukirkan nama baik seseorang dan tetap abadi meski ia sudah wafat. Karena itulah ilmu itu disebut kekal abadi.
Syekh Hasan bin Ali yang dikenal dengan julukan al-Marghibani mendendangkan sebuah syair untuk kita :

  • "Orang-orang bodoh itu sudah mati sebelum mereka mati. Dan orang-orang pandai itu masih hidup meskipun sudah mati."


Imam Burhanuddin juga bertutur :

  • "Di dalam kebodohan itu ada kematian sebelum orang-orang bodaoh itu mati, Jasad mereka sudah terkubur sebelum mereka dikuburkan.

  • Orang yang hidup tanpa ilmu itu bagaiakan orang yang mati, pada hari kebangkitan nati ia tak akan bangkit."


Syair lain mengungkapkan :

  • "Orang berilmu itu hidup kekal setelah mati, meski tubuhnya telah hancur di perut bumi.

  • Orang bodoh itu sekali sudah mati meski ia berjalan di atas bumi, ia dianggap hidup, padahal ia sudah mati."


Imam Burhanuddin bertutur lagi :

  • "Ilmu itu berada pada derajat yang tinggi, sedang selain ilmu akan tinggi bila banyak pengikutnya.

  • Orang berilmu kemuliaannya akan abadi dan berlipat-lipat, sedang orang bodoh begitu mati, ia tertimbun debu.

  • Sungguh sangat jauh mendaki ke puncak ilmu, ia tidak akan berhasil bila maksudnya mencari kekuasaan atau hanya ingin menjadi pimpinan pasukan kuda.

  • Aku ingin menyampaikan padamu sedikit ulasan mengenai ilmu, maka camkanlah.

  • Ilmu adalah cahaya dari segala cahaya yang menuntun seseorang dari kebutaan, sedang orang bodoh sepanjang masa berjalan dalam kegelapan.

  • Ilmu adalah puncak tertinggi yang akan melindungi siapapun yang berlindung dan ia akan selamat dari segala mara bahaya.

  • Dengan ilmu manusia bisa selamat di saat mereka terlena dan memberikan harapan disaat ajal akan tiba.

  • Ilmu akan menolong manusia ketika melangkah dalam kebutaan menuju jurang neraka yang merupakan tempat terburuk.

  • Siapapun berharap kepada ilmu, berarti berharap segala kemuliaan, dan siapapun mendapatkan ilmu, berarti mendapatkan segala yang didamkannya.

  • Wahai manusia yang berakal, ilmu adalah derajat termulia. Bila kamu telah meraihnya, lupakan dengan derajat lain yang telepas.

  • Bila kamu tidak dapat meraih dunia dan kelezatannya, maka pejamkanlah matamu, karena sesungguhnya ilmu adalah anugrah yang paling berharga."


Syair lain diungkapkan padaku :

  • "Bila orang itu mulia karena ilmunya, maka ilmu fikih lebih membuatnya mulia.

  • Banyak wewangian semerbak aromanya, tapi tidak seharum minyak kasturi, banyak burung bisa terbang tapi tak sehebat burung rajawali."


Syair yang lain :

  • "Fikih adalah ilmu yang paling berharga, dan kamulah yang menghimpunnya. Barngsiapa mengkaji ilmu, maka ia tidak akan menghabiskannya.

  • Maka bersungguh-sungguhlah dalam mencari ilmu yang belum kamu ketahui. Ilmu itu diawali dan diakhiri dengan kebahagiaan."


Dengan kelezatan ilmu fikih dan kelezatan memahaminya sudah cukup bagi orang berakal untuk tertarik dan bersemangat mendapatkan ilmu.

Tingkat Pelajaran & Usaha Memahaminya

Sebaiknya memulai pelajaran itu dengan sesuatu yang mudah di pahami.

Imam Syarafuddin al-Uqaili berkata : "Yang benar menurutku dalam masalah ini adalah metode yang digunakan oleh para guru-guru kita, yaitu mereka memilih bagi para pemula kitab-kitab yang ringkas dan praktis, karena mudah dipahami dan dihapalkan, tidak membosankan dan banyak diperlukan."
Sebaiknya murid membuat catatan sendiri mengenai pelajaran yang telah dipahaminya dan diulanginya berkali-kali. Hal ini sangat beguna sekali. Jangan mencatat sesuatu yang belum dipahami, sebab hal ini akan membuat bosan, menghilangkan kecerdasan dan membuang-buang waktu.
Murid hendaknya berusaha memahami pelajaran dari guru atau menganalisa, banyak mengulanginya, dan menganalisa, maka ia akan mengerti dan memahaminya. Dikatakan : "Menghapal dua huruf lebih baik daripada mendengar dua kalimat dan memahami dua huruf lebih baik daripada hanya mengahpal dua kalimat."
Bila seseorang sekali dua kali mengabaikan dan tidak berusaha memahami seutu pelajaran, maka hal itu akan menjadi suatu kebiasaan yang buruk dan tidak akan dapat memahami kalimat sedikit yang sebenarnya mudah.
Disamping bersungguh-sungguh sebaiknya disertai dengan berdoa kepada Allah dan merendahkan diri kepada-Nya. Sesungguhnya Allah akan mengabulkan orang yang berdoa kepadanya dan tidak menolak orang yang berharap kepada-Nya.
Syekh Imam Hammad bin Ibrahim bin Ismail ash-Shaffar mendendangkan syair gubahnya Imam Kholil bin Ahmad as-Sajarzi :


  • "Mengabdilah kamu kepada ilmu sebagaimana seorang abdi dan teruslah menkajinya dengan prilaku yang baik.

  • Bila kamu telah menghapalnya, maka ulangilah lagi lalu tanamkanlah hingga kokoh.

  • Lalu catatlah, agar kamu bisa mengulanginya dan mempelajarinya kapanpun.

  • Bila kamu yakin tidak akan lupa, maka carilah ilmu yang baru,

  • Dengan tetap mengulang ilmu yang telah dikuasai serta bersungguh-sungguh dengan ilmu tambahan ini.

  • Diskusikan ilmu dengan orang lain agar ilmu tetap hidup dan janganlah kau jauhi orang-orang yang berakal pandai.

  • Bila ilmu kamu sembunyikan, maka kamu akan lupa, sehingga kamu dianggap orang yang bodoh dan dungu.

  • Kemudian kamu akan dibelengguapi dihari kiamat serta dilahap oleh siksa yang pedih."



Senin, 15 Februari 2010

Cita-Cita yag Luhur

Seorang pelajar harus memiliki cita-cita yang luhur dalam berilmu. Karena sesungguhnya seseorang akan terbang dengan cita-citanya sebagaimana burung terbang dengan dua sayapnya.

Abu Thayyib berkata :


  • "Cita-cita akan tercapai sejauh orang-orang akan bercita-cita. Kemuliaan akan tercapai sejauh seseorang berbuat mulia.

  • Sesuatu yang kecil akan tampak besar bagi orang-orang yang bercita-cita kecil. Dan sesuatu yang bersar akan tampak kecil bagi orang-orang yang bercita-cita bersar."


Modal untuk mencapai segala sesuatu adalah kerja keras dan cita-cita luhur. Seseorang yang bercita-cita menghafalkan kitab-kitab Muhammad bin Hasan misalnya, dengan disertai kerja keras dan kontinuitas, maka secara lahir ia tentu dapat menghafalkan sebagian besarnya, atau paling tidak setengahnya. Adapun orang yang bercita-cita tinggi, tetapi tidak memiliki kesungguhan, atau memiliki kesungguhan tetapi tidak memiliki cita-cita yang tinggi, maka ia tidak akan mendapatkan ilmu kecuali hanya sedikit.

Dalam kitab Makarimul Akhlak, Imam an-Naisaburi menuturkan bahwa ketika Raja Dzul Qarnain hendak menaklukan negeri Timur dan Barat, ia bermusyawarah dengan para bijak bestari, katanya : "Bagaimana aku akan pergi untuk meraih kekuasaan kerajaan ini sementara dunia ini hanya kecil, akan binasa dan kekuasaan adalah hina." Hal ini berarti bukan cita-cita yang luhur. Mereka menjawab : "Berangkatlah untuk meraih kebesaran dunia dan akhirat." Kemudian Raja Dzul Qarnain berkata : "Nah ini bearti sesuatu yang baik."

Rasulullah saw bersabda : "Allah menyukai perkara yang luhur dan membenci perkara yang hina."
Diungkapkan dalam sebuah syair :
"Janganlah engaku tergesa-gesa dalam menghadapi masalahmu, tetapi biarkanlah dulu. Tak ada yang dapat meluruskan tongkatmu seperti sediakala."
Diungkapkan pula, bahwa Abu Hanifah pernah berkata kepada Abu Yusuf : "Kamu bukanlah orang yang cerdas, tetapi kamu bisa mengatasinya dengan rajin belajar. Hindarilah kemalasan, karena kemalasan adalah sesuatu yang bururk dan akibat buruknya juga sangat besar."
Syekh Abu Nashr ash-Shaffar al-Anshari bersyair :

  • "Wahai jiwa, janganlah kau bermalas-malas dalam berbuat taat, keadilan dan kebaikan.

  • Siapapun yang berbuat baik, pastikan mendapatkan keuntungan, sedang orang yang malas pasti akan mendaptkan bencana dan kesukaran."


Saya (penulis) juga mengubah syair yang senada :

  • "Wahai jiwaku, tinggalkan kemalasan dan penundaan masalah. Sebab jika tidak, maka kau jatuhkan aku dalam sehinaan.

  • Tak pernah kulihat sesuatu yang dapat diraih bagi pemalas kecuali penyesalan dan cita-cita yang tak terwujud."


Diungkapkan lagi dalam sebuh syair :

  • "Banyak perasaan malu, lemah dan sesal manusia lahir dari kemalasan.

  • Hindarilah rasa malas untuk membahas sesuatu yang belum jelas dengan alasan sudah tahu atau masih ragu."


Ada ungkapan, bahwa rasa malas itu disebabkan oleh kurangnya penghayatan terhadap keutamaan dan kelebihan ilmu.

Usaha Keras

Sebaiknya pelajar berusaha memaksa diri sendiri untuk meraih ilmu, bersungguh-sungguh dan rajin dengan cara menghayati keutamaan ilmu.

Karena sesungguhnya ilmu itu abadi, sedang harta benda itu akan binasa. Sebagaimana yang katakan oleh Ali bin Abu Thalib ra :


  • "Aku rela dengan bagian yang diberikan oleh Allah ilmu untukku dan harta benda untuk musuh-musuhku.

  • Karena harta benda akan binasa dalam jangka pendek, sedang ilmu akan abadi dan tidak akan musnah."


Ilmu yang bermanfaat mengukirkan nama baik seseorang dan tetap abadi meski ia sudah wafat. Karena itulah ilmu itu disebut kekal abadi.
Syekh Hasan bin Ali yang dikenal dengan julukan al-Marghibani mendendangkan sebuah syair untuk kita :

  • "Orang-orang bodoh itu sudah mati sebelum mereka mati. Dan orang-orang pandai itu masih hidup meskipun sudah mati."


Imam Burhanuddin juga bertutur :

  • "Di dalam kebodohan itu ada kematian sebelum orang-orang bodaoh itu mati, Jasad mereka sudah terkubur sebelum mereka dikuburkan.

  • Orang yang hidup tanpa ilmu itu bagaiakan orang yang mati, pada hari kebangkitan nati ia tak akan bangkit."


Syair lain mengungkapkan :

  • "Orang berilmu itu hidup kekal setelah mati, meski tubuhnya telah hancur di perut bumi.

  • Orang bodoh itu sekali sudah mati meski ia berjalan di atas bumi, ia dianggap hidup, padahal ia sudah mati."


Imam Burhanuddin bertutur lagi :

  • "Ilmu itu berada pada derajat yang tinggi, sedang selain ilmu akan tinggi bila banyak pengikutnya.

  • Orang berilmu kemuliaannya akan abadi dan berlipat-lipat, sedang orang bodoh begitu mati, ia tertimbun debu.

  • Sungguh sangat jauh mendaki ke puncak ilmu, ia tidak akan berhasil bila maksudnya mencari kekuasaan atau hanya ingin menjadi pimpinan pasukan kuda.

  • Aku ingin menyampaikan padamu sedikit ulasan mengenai ilmu, maka camkanlah.

  • Ilmu adalah cahaya dari segala cahaya yang menuntun seseorang dari kebutaan, sedang orang bodoh sepanjang masa berjalan dalam kegelapan.

  • Ilmu adalah puncak tertinggi yang akan melindungi siapapun yang berlindung dan ia akan selamat dari segala mara bahaya.

  • Dengan ilmu manusia bisa selamat di saat mereka terlena dan memberikan harapan disaat ajal akan tiba.

  • Ilmu akan menolong manusia ketika melangkah dalam kebutaan menuju jurang neraka yang merupakan tempat terburuk.

  • Siapapun berharap kepada ilmu, berarti berharap segala kemuliaan, dan siapapun mendapatkan ilmu, berarti mendapatkan segala yang didamkannya.

  • Wahai manusia yang berakal, ilmu adalah derajat termulia. Bila kamu telah meraihnya, lupakan dengan derajat lain yang telepas.

  • Bila kamu tidak dapat meraih dunia dan kelezatannya, maka pejamkanlah matamu, karena sesungguhnya ilmu adalah anugrah yang paling berharga."


Syair lain diungkapkan padaku :

  • "Bila orang itu mulia karena ilmunya, maka ilmu fikih lebih membuatnya mulia.

  • Banyak wewangian semerbak aromanya, tapi tidak seharum minyak kasturi, banyak burung bisa terbang tapi tak sehebat burung rajawali."


Syair yang lain :

  • "Fikih adalah ilmu yang paling berharga, dan kamulah yang menghimpunnya. Barngsiapa mengkaji ilmu, maka ia tidak akan menghabiskannya.

  • Maka bersungguh-sungguhlah dalam mencari ilmu yang belum kamu ketahui. Ilmu itu diawali dan diakhiri dengan kebahagiaan."


Dengan kelezatan ilmu fikih dan kelezatan memahaminya sudah cukup bagi orang berakal untuk tertarik dan bersemangat mendapatkan ilmu.

Teguh & Sabar dalam Belajar

Ketahuilah, bahwa kesabaran dan keteguhan merupakan modal yang bersar dalam segala hal, tetapi hal itu sangat jarang yang melakukannya, sebagaimana disitir oleh sebuah syair :



  • "Sesungguhnya sesuatu tentu ditergetkan pada tingkat yang paling tinggi (maksimal) tetapi jarang orang dapat bertahan dalam mencapainya."




Ada ungkapan: "Keberanian adalah kesabaran sesaat."

Dalam menuntut ilmu hendaknya bersabar dan bertahan kepada seorang guru dan kitab tertentu, sehingga ia tidak meninggalkannya sebelum sempurna. Dan tidak beralih dari seseuatu bidang ilmu ke bidang yang lain sebelum benar-benar memahaminya dengan yakin. Juga tidak berpindah dari suatu daerah ke daerah lain tanpa ada sesuatu yang memaksa. Karena bila semua itu bila tidak diindahkan, maka urusan menjadi kacau, hati jadi gelisah, menyia-nyiakan waktu dan menyakiti perasaan guru.

Sebaiknya ia juga bersabar mengendalikan apa yang diinginkan, penyair mengungkapkan :



  • "Sesungguhnya hawa nafsu itu memang pada dasarnya hina, barang siapa kalah oleh hawa nafsu, berarti dia kalah oleh kehinaan."




Ia juga harus sabar dalam menghadapi berbagai cobaan dan bencana. Ada ungkapan : "Gedung-gedung yang menyimpan cita-cita luhur itu terletak di atas timbunnya cobaan bencana."

Pernah kudengar syair yang konon merupakan gubahan Sayyidina Ali ra :



  • "Ingatlah, kamu tidak akan meraih ilmu kecuali dengan enam hal yang akan kuterangkan semuanya berikut ini.


  • Yaitu kecerdasan, minat yang besar, kesabaran, bekal yang cukup, petunjuk guru dan waktu yang lama."



Sikap dalam Berilmu

Ahli ilmu sebaiknya tidak merendahkan (menghinakn) dirinya dengan mengharapkan sesuatu yang tidak semestinya dan menghindari hal-hal yang dapat menghinakn ilmu dan ahli ilmu.

Dan ahli ilmu haruslah bersikap rendah hati, yaitu sikap antara sombong dan rendah diri serta bersikap iffah, yaitu menjaga diri dari segala perbuatan rendah dan dosa. Semua itu dapat dikaji dalam kitab akhlak.
Syekh al-Imam al-Ajjal Rukunul Islam yang terkenal sebagai sastrawan terpilih mendendangkan syair gubahannya sendiri :


  • "Rendah hati adalah sikap orang yang bertakwa dan kelak ia akan mendapat derajat yang tinggi.

  • Sungguh mengherankan orang yang tak tahu apakah ia orang yang bebahagia atau celaka.

  • Atau bagaiman usia atau jiwanya diakhiri apakah akan terpuruk dalam derajat hina atau akan mencapai derajat luhur.

  • Kesombongan hanyalah sifat yang hanya menjadi milik Tuhan kita. Maka jauhilah dan hindarilah."


Abu Hanifah pernah berucap kepada sahabat-sahabatnya : "Besarkanlah surban-surban kalian dan lebarkanlah lengan-lengan baju kalian." Ungkapan ini dikemukakan agar supaya ilmu dan ahli ilmu tidak dipandang remeh.

Menghormati Ilmu

Ketahuilah, bahwa pelajar tidak akan dapat meraih ilmu dan memanfaatkan ilmunya kecuali dengan menghormati ilmu dan ahli ilmu serta menghormati dan mengagungkan gurunya.

Diungkapakn : "Orang yang ingin mencapai sesuatu tidak akan berhasil kecuali dengan menghargai dan orang tidak akan jatuh dalam kegagalan kecuali dengan meninggalkan respek (rasa hormat) dan mengagungkannya."
Dituangkan lagi : "Rasa hormat lebih baik daripada kepatuhan. Ingat, bahwa manusia tidak menjadi kafir (kepada Allah) karena berbuat maksiat, tetapi ia kafir karena meninggalkan rasa hormat (kepada-Nya)."

Memilih Sahabat

Di dalam memilih sahabat sebaiknya pilihlah orang yang tekun, warak, bertabiat lurus serta tanggap. Hindarilah orang yang malas, pengangguran, pembual, suka berbuat onar dan suka menfitnah.

Pernah di dendangkan sebuah syair :


  • "Janganlah kamu tanyakan mengenai jati diri seseorang, tetapi lihatlah siap temannya. Karena seseoarang akan mengikuti perilaku temannya.

  • Bila temannya orang yang jahat, maka hindarilah segera. Bila temanya adalah orang yang baik, maka bersahabatlah dengannya, niscaya kamu akan mendapat petunjuk."


Sebuah syair yang lain :

  • "Janganlah kamu bersahabat dengan pemalas dalam segala perilakunya. Banyak orang baik yang rusak karena ulah orang lain.

  • Begitu cepat pengaruh orang bodoh menjalar kepada orang yang pandai. Bagaikan bara api yang diletakan pada abu, maka padamlah ia."


Nabi Muhammad saw bersabda : "Sesungguhnya orang dilahirkan dalam keadaan suci (Islam), kecuali kedua orang tuanya menjadikannya Yahudi, Nasrani dan Majusi."
Sebuah syair berbahasa Persi mengungkapkan :

  • "Teman yang buruk lebih berbahaya dari ular berbisa. Demi Allah Zat Yang Maha Benar dan Maha Suci.

  • Teman yang buruk mengantar menuju neraka jahanam. Teman yang baik mengantar menuju surga na'im."


Diungkapkan pula dalam sebuah syair :

  • "Bila kamu ingin mendapat ilmu dari ahlinya atau ingin mengetahui dan mengabarkannya mengenai kebaikan

  • Maka renungkanlah bumi dengan nama-namanya dan renungkanlah (ambilah pelajaran) dari sahabat (teman) mengenai dirinya."

Kesungguhan

Merupakan suatu keharusan bagi seorang pelajar untuk bersungguh-sungguh, kontinu dan tidak kenal berhenti dalam belajar, hal itu telah diisyaratkan dalam firman Allah : "Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh berjuang di jalan kami, niscaya akan kami tunjukan jalan kami." (Q.S. Al-Ankabut : 69)

Diungkapkan : "Barangsiapa bersungguh-sungguh mencari sesuatu, niscaya akan menemukannya. Seseorang akan mendapatkan sesuatu yang dicarinya, sejauh usaha yang dilakukannya. Dalam menuntut ilmu dibutuhkan kesungguhan hati tiga pihak, yaitu pelajar, guru dan ayah bila ia masih hidup."
Syekh al-Ajjal Ustadz Sadiduddin mendendangkan syair gurunya Imam Syafi'i untukku :


  • "Kesungguhan akan mendekatkan sesuatu yang jauh dan membukakan pintu yang terkunci.

  • Hak Allah yang paling utama bagi makhluknya adalah orang yang bercita-cita tinggi justeru diuji dengan hidup yang sempit

  • Sudah menjadi kodrat dan ketentuan-Nya bila orang pandai susah hidupnya dan orang bodoh justeru sejahtera hidupnya.

  • Tetapi orang yang dikaruniai akal yang cerdas dijauhkan dari kekayaan karena keduanya berlawanan dan sangatlah berbeda."


Didendangkan lagi syair untukku :

  • "Kau idam-idamkan menjadi seorang ahli fikih yang ahli menganalisa tanpa mau bersusah payah. Memang kegilaan itu beranekaragam bentuknya.

  • Harta benda saja takakan kau dapatkan tanpa bersusah payah apalagi dengan ilmu."


Abu Thayyib berkata :

  • Saya tidak melihat di antara aib-aib manusia sebuah cela yang lebih besar sebagaimana kekurangan orang-orang yang sebenarnya mampu, tetapi tidak dapat melakukan sesuatu dengan sempurna."


Adalah suatu keharusan bagi pelajar untuk berjaga pada malam hari sebagaimana diungkapkan oleh seorang penyair :

  • "Keluhuran derajat akan dicapai sebatas usaha yang dilakukan. Barangsiapa mengharapkan kemulian maka ia harus berjaga di malam hari.

  • Kau ingin mendapatkan kemulian tetapi kau terlelap di malam hari, padahal orang yang mencari mutiara, ia harus menyelam lautan.

  • Derajat yang tinggi harus dengan kemampuan yang tinggi pula. Dan kemulian seseorang tergantung pada keterjagaannya pada malam hari.

  • Ya Tuhanku kutinggalkan tidur dimalam hari untuk mendapatkan rida-Mu, wahai Tuhan bagi segala tuan.

  • Barang siapa bercita-cita tinggi tanpa mau bersusah payah sama dengan mengukur umur dalam meraih sesuatu yang mustahil.

  • Maka tolonglah aku untuk mendapatkan ilmu dan sampaikanlah aku pada puncak keluhuran."


Diungkapkan Pula :

  • "Jadikanlah malam sebagai kendaraanmu untuk mendaptakan cita-citamu."


Saya juga mengubah syair yang senada dengan syair-syair di atas :

  • "Barangsiapa menghendaki untuk mendapatkan cita-citanya, maka jadikanlah malam sebagai sarananya.

  • Kurangilah makan agar kamu dapat terjaga diwaktu malam. Kalau itu semua dapat kau lakukan, niscaya kamu dapat mencapai kesempurnaan."

Diungkapkan pula : "Barangsiapa membiarkan dirinya terjaga dimalam hari, hatinya akan ceria dimalam hari."

Kontinue & tidak Memaksakan Diri

Adalah suatu keharusan bagi pelajar untuk kontinue atau rutin dalam belajar serta mengulanginya juga setiap awal dan akhir malam, krena antara waktu Maghrib dan Isya serta waktu Sahur adalah waktu yang penuh berkah.

Kata seorang penyair :


  • "Wahai pelajar, bergaullah dengan orang-orang yang warak, Hindari banyak tidur dan kekenyangan.

  • Rutinlah belajar jangan sampai meninggalkannya. Dengan belajar ilmu akan tertanam dan berkembang."


Ambillah kesempatan pada masa remaja sebagaimana dikatakan oleh syair :

  • "Kamu akan dianugrahi. Barang siapa mengangankan cita-cita luhur, maka ia harus terjaga di malam hari.

  • Raihlah kesempatan diwaktu muda. Karena masa itu tidak akan lama."


Ia juga tidak boleh memaksa diri sendiri dan membebaninya terlalu berat sehingga menjadi lemah dan tidak mempu melakukan sesuatu. Tetapi ia harus memperlakukan diri sendiri dengan santun, karena sikap santun merupakan modal yang bersar dalam merahi segala sesuatu. Rasulullah saw bersabda : "Ingatlah, bahwa agama islam itu kokoh, maka perhatikanlah dirimu dalam menjalankan agama dan jangan kau menyakiti dirimu sendiri dalam beribadah kepada Allah, karena orang yang lemah tidak mampu melintasi dunia dan tidak mempunyai sarana yang utuh."
Sabdanya lagi : "Dirimu adalah kendaraanmu, maka kasihanilah ia."

Jumat, 05 Februari 2010

Kelejatan Ilmu

Barangsiapa yang telah mengecap kelezatan ilmu dan pengamalannya, maka semakin kecil rasa sukanya di dalam hal-hal yang dimiliki manusia.

Syekh al-Imam Al-Ajjal al-Ustadz Qomaruddin Hammad bin Ibrahim bin Ismail ash Shaffar al-Anshari telah mendendangkan untuk kita sebuah syair yang didiktekan oleh Imam Abu Hanifah :


  • "Barangsiapa mencari ilmu untuk tujuan akhirat, maka beruntunglah ia dengan keutamaan dari petunjuk Allah.

  • Sungguh amat merugi orang yang mencari ilmu hanya untuk mendapatkan keuntungan dari hamba Allah (manusia)."


Namun apabila seseorang mencari keueukan untuk dapat menyerukan kebaikan dan mencegah kemungkaran, menegakan kebenaran dan mengagungkan agama bukan untuk kepentingan hawanafsunya, maka hal itu diperbolehkan sebatas kedudukan di mana ia sudah dapat meyerukan kebaikan dan mencegah kemungkaran.
Setiap pencari ilmu hendaknya memikirkan hal tersebut. Is sudah menuntut ilmu dengan perjuangan yang berat. Jangan sampai ia memalingkannya pada tujuan duniawi yang hina, sedikit dan binasa sebuah syair mengatakan :

  • "Dunia itu sedikit dari yang sedikit dan seorang yang tenggelam di dalamnya lebih hina dari orang yang hina

  • Dunia dengan sihirnya membutakan dan menulikan orang sehingga mereka bingung tanpa pegangan."


Definisi Ilmu

Pengertian ilmu adalah suatu sifat yang dengannya dapat jelas pengertian suatu hal yang disebut, sedang ilmu fikih adalah pengetahuan tentang kelembutan-kelembuat ilmu (kedalaman ilmu).

Abu Hanifah berpendapat : "Fikih adalah pengetahuan jiwa seseorang mengenai apa yang bermanfaat dan berbahaya baginya." Katanya lagi : "Tidak ada ilmu kecuali dengan diamalkan, dan mengamalkannya adalah meninggalkan duniawai untuk tujuan ukhrawi." Setiap orang sebaiknya tidak sampai melupakan dirinya dari hal-hal yang bermanfaat dan yang berbahaya baginya baik di duni dan akhirat, sehingga ia dapat memetik hal-hal yang bermanfaat dan menghindari hal-hal yang berbahaya, agar akal dan ilmunya tidak menjadi dalih dan menyebabkannya bertambah siksanya. Kita berlindung diri kepada Allah dari murka dan siksa-Nya.

Banyak sekali firman Allah dan hadis Nabi saw, yang sahih dan masyhur yang mendapatkan keistimewaan dan keutamaan ilmu. Kami tidak menjabarkannya agar kitab ini tidak bertele-tele.

Jumat, 29 Januari 2010

Kewajiban Belajar

Rasulullah SAW Bersabda: "Menuntut ilmu adalah fardu ain (kewajian individu) bagi setiap muslim dan muslimat."

Ketahuilah, bahwa kewajiban setiap muslim bukanlah
menuntut segala macam ilmu. Tetapi yang wajib
baginya adalah menuntut ilmu haal (ilmu yang menyangkut kewajiban sehari-hari sebagai muslim, seperti


ilmu tauhid, akhlak dan fikih) segabaimana diterangkan dalam hadis: "Ilmu yang paling utama adalah
ilmu haal dan amal yang paling utama adalah menjaga haal (hal-hal yang merupakan kewajiban sehari-hari
seperti menghindari penyia-nyiaan harta dan kerusakan)".


Diwajibkan bagi setiap muslim mempelajari ilmu yang berhubungan dengan kewajiban sehari-harinya
dalam kondisi apapun. Karena ia wajib menjalankan salat, maka wajib baginya mempelajari ilmu yang
dibutuhkan di dalam salatnya sesuai dengan batasan, agar ia dapat menunaikan kewajibannya secara sempurna.

Wajib pula mempelajari ilmu tentang puasa, zakat, bila ia berharta, dan haji bila sudah wajib baginya,
begitu pula ilmu mengenai jual beli bila ia berdagang. Syekh Muhammad bin Hasan ditanya: "Mengapa anda tidak mengarang
kitab tentang zuhud ?" Ia menjawab: "Tidak, saya (justru) mengarang kitab tentang jual beli."
Karena menurutnya orang yang zuhud adalah orang yang mampu menghindari hal-hal yang syubhat (tidak jelas status hukumnya) dan
hal-hal yang makruh di dalam berdagang.

Demikian pula wajib mempelajari ilmu-ilmu mengenai aturan-aturan yang berhubungan dengan orang lain dan berbagai pekerjaan.
Setiap orang yang terjun pada salah satu dari urusan-urusan tersebut harus mempelajari ilmu yang menghindarkannya dari perbuatan haram di dalamnya.

Setiap muslim juga wajib mempelajari ilmu mengenai hal-hal yang berhubungan dengan hati, seperti tawakal (pasrah kepada Allah), kembali kepada Allah (inabah atau tobat),
takut (kepada murak Allah) dan rida (rela atas apa yang ditakdirkan oleh Allah atas dirinya).

Sebab-sebab Malas

Rasa malas kadang-kadang ditimbulkan oleh dahak dan lemak di dalam tubuh yang disebabkan karena banyak makan. Cara menguranginya adalah dengan cara mengurangi makan. Diungkapkan, bahwa tujuh puluh Nabi sepakat bahwa lupa disebabkan oleh banyaknya dahak (lendir) ditubuh. Dahak disebabkan oleh banyaknya minum, banyak minum disebabkan oleh banyaknya makan.
Makan roti kering dan anggur kering dapat menghilangkan dahak (lendir). Tapi jangan terlalu banyak, sehingga butuh minum, sementara banyak minum dapat menambah dahak.


Bersiwak (menyikat gigi) juga dapat mengurangi dahak, menambah kemampuan menghafal dan kefasihan membaca. siwak adalah sunah nabi yang dapat menambah pahala salat dan bacaan Al-Quran.

Muntah juga dapat mengurangi dahak dalam kandungan lemak tubuh.
Cara mengurangi makan adalah memikirkan manfaat-manfaat sedikit makan, antara lain kesehatan tubuh, terhindar dari perbuatan haram dan memikirkan orang lain. Dalam hal ini ada syair mengungkapkan :


  • "Aduh celaka, celaka dan celaka. Kehancuran seseorang karena banyak makan."


Nabi Muhammad SAW bersabda :"Tiga orang yang dibenci Allah bukan karena ia berbuat dosa, namun adalah orang yang banyak makan, orang yang kikir, (bakhil) dan orang yang sombong."

Cara lain mengurangi makan adalah merenungkan bahaya-bahaya yang timbul karena banyak makan, yaitu beberapa penyakit dan lemahnya fisik. Juga disebutkan timbul kekenyangan yang menghilangkan kecerdasan.

Galinus mengatakan : "Buah delima semuanya bermanfaat, ikan semuanya berpengaruh buruk, tetapi sedikit makan ikan lebih baik daripada banyak makan buah delima. Di dalamnya terdapat penghamburan harta. Makan hingga melebihi batas kenyang merupakan bahaya dan mengandung siksa di akhirat nanti. Orang yang banyak makan dibenci orang."

Cara mengurangi makan adalah dengan memilih makanan yang membosankan, mendahulukan makanan yang lebih lunak dan lebih menggiurkan. Tidak makan bersama-sama dengan orang yang lapar, kecuali bila ada maksud yang baik, misalnya makan yang banyak agar kuat dalam berpuasa, salat dan amal-amal yang lain.

Senin, 25 Januari 2010

Keutamaan Ilmu

Keutamaan ilmu sudah tidak diragukan lagi bagi siapapun, karena ilmu merupakan sesuatu yang khusus (ciri khas) manusia. Sebab segala hal di luar ilmu itu dimiliki oleh manusia dan segala macam bintanag, seperti keberanian, ketegasan, kekuatan, krdermawanan, kasih sayang dan lain sebagainya.



Dengan ilmu pula Allah memberikan keunggulan kepada Nabi Adam As, atas para malaikat. Dan Allah
menyuruh mereka sujud kepada Adam. Keutamaan ilmu hanya karena ia menjadi wasilah (pengantar)
menuju ketakwaan yang menyebabkan seseorang berhak mendapatkan kemuliaan di sisi Allah SWT, dan
kebahagiaan yang abadi, sebagaimana Muhammad bin hasan bin Abdillah menjelaskan dengan syair :


  • "Tuntutlah ilmu, karena ilmu merupakan perhiasan bagi pemiliknya, keunggulan dan pertanda segala pujian.

  • Jadikanlah dirimu sebagai orang yang selalu menambah ilmu setiap hari. Dan berenanglah di lautan makna.

  • Belajarlah ilmu fikih, karena fikih merupakan penuntun yang baik menuju kebaikan dan ketakwaan serta tujuan paling tepat.

  • Ia menjadi bendera yang menunjukan kepada jalan menuju tujuan. Ia menjadi benteng yang menyelamatkan dari segala kesesatan.

  • Seorang ahli fikih yang teguh lebih berat bagi setan dibanding seribu ahli ibadah (yang tidak berilmu)."



Niat dalam Belajar

A.Pengertian Niat Belajar

Wajib berniat belajar pada masa-masa menuntut ilmu, karena niat merupakan sesuatu yang pundamental
dalam segala hal, sabda Nabi SAW : "Sesungguhnya sahnya segala amal itu tergantung pada niat."



Sabdanya lagi :"Banyak sekali amal-amal perbuatan dunia menjadi amal perbuatan akhirat disebabkan niat yang baik.
Dan juga banyak sekali amal perbuatan akhirat menjadi amal perbuatan dunia disebabkan niat yang buruk."


B.Niat yang Baik dan Niat yang Buruk

Di dalam menuntut ilmu sebaiknya seorang pelajar berniat mencari rida Allah SWT, mengharapkan kebahagiaan akhirat, menghilangkan kebodohan dari dirinya sendiri dan dari segenap orang-orang bodoh, menghidupkan agama dan melestarikan islam, karena sesungguhnya kelestarian islam hanya dapat dipertahankan dalam ilmu dan perilaku zuhud serta takwa tidaklah sah dengan kebodohan.
Syekh Al-Imam Al-Ajjal Burhanudin, pengarang kitab Al-Hidayah telah mendendangkan syair gubahan seorang ulama :


  • "Sungguh merupakan kehancuran yang besar seorang yang alim yang tak peduli. Dan lebih parah lagi dari itu, seorang yang bodoh yang beribadah tanpa aturan.

  • Keduanya merupakan fitnah yang besar di alam semesta bagi orang-orang yang menjadikan keduanya sebagai pedoman."


Dengan menuntut ilmu ia juga harus berniat syukur kepada Allah SWT, atas kenikmatan akal dan kesehatan badan.

Jangan sampai ia berniat untuk mencapai pengaruh agar orang-orang di sekitarnya berpaling kepadanya, mencari kedudukan di mata penguasa serta yang lain.

Muhammad bin Hasan berkata : "Andai saja semua manusia itu menjadi hamba sahayaku, niscaya akan kumerdekakan semuanya dan aku akan melepaskan semua hak waris wala' dari mereka."

Menghormati Guru

Salah satu menghormati ilmu adalah menghormati guru. Sayyidina Ali ra menyatakan : "Aku adalah hamba sahaya bagi orang yang mengajarku, walaupun satu huruf saja. Bila ia bermaksud menjualku, maka ia bisa menjualku, bila ia bermaksud memerdekakanku maka ia bisa memerdekakanku dan bila ia bermaksud memperbudakku, maka ia bisa memperbudakku."




Dalam hal ini pernah didendangkan sebuah syair untukku :

  • "Menurutku hak yang paling utama adalah hak guru, dan hak itu wajib dijaga bagi setiap muslim.

  • Sungguh ia berhak diberi kemuliaan. Setiap ia mengajar satu huruf, tak cukup memberinya seribu uang dirham."


Sesungguhnya orang yang mengajarimu satu huruf yang kamu butuhkan dalam uru dan agamamu, makan ia merupakan ayahmu dalam kahidupan agamamu. Guru kami Syekh Al-Imam Sadiduddin Asy-Syairazi berkata : "Guru-guru kami mengatakan : "Barang siapa mengharap anaknya menjadi orang alim, hendak ia memelihara, memuliakan dan memberikan sesuatu kepada para ahli agama yang mengembara. Bila anaknya ternyata tidak menjadi orang alim, tentu cucunya yang akan menjadi orang alim."


Salah satu menghormati guru adalah tidak kencang berjalan di depannya, tidak duduk di tempatnya, tidak memulai percakapan dengannya kecuali atas izinnya, tidak memperbanyak omongan di sisinya, tidak menanyakan sesuatu ketiak ia sudah bosan, menjaga waktu dan tidak mengetuk pintu rumah atau kamarnya, tetapi harus menunggu sampai ia keluar. Jadi seorang murid harus berusaha mendapatkan ridhonya, menghindari kemurkaannya dan patuh kepadanya selain dalam perbuatan maksiat kepada Allah SWT, sebab tidak boleh patuh pada makhluk untuk melakukan perbuatan maksiat kepada pencipta.


Juga salah satu menghormati guru adalah menghormati anak-anaknya dan orang yang mempunyai hubungan dengannya. Guru kami Syaikhul Islam Burhanuddin Shahibul Hidayah pernah bercerita, bahwa seorang ulama besar dari Bukhara sedang duduk dalam suatu majelis pengajian, sesekali ia berdiri dan duduk lagi. Ketiak ditanyakan kepadanya mengenai sikapnya itu, ia menjawab : "Sesungguhnya putra guruku sedang bermain bersama anak-anak lain di halaman rumah, setiap aku melihatnya, aku berdiri sebagai penghormatanku pada guruku."


Hakim Agung Fahruddin al-Arsabandi seorang pemimpin para Imam di Marwa sangat dihormati oleh Sultan (raja), ia berkata : "Saya dapat merasakan kedudukan ini karena berkah hormat saya kepada guru. Saya melayani guru saya, yaitu Abu Yazid Ad-Dabusi. Saya memasak makanan untuk beliau dan saya tidak ikut memakannya."


Syekh al-Imam al-Ajjal Syamsul Aimmah al-Khukwani terpaksa keluar dari Bukhara dan pindah ke suatu desa karena suatu peristiwa yang menimpanya. Murid-muridnya mengunjunginya kecuali Syekh al-Imam al-Qadhi Abu Bakar az-Zagauni, saat mereka bertemu, Imam al-Khulwani bertanya : "Mengapa kamu tidak mengunjungiku ?" Syekh Abu Bakar menjawab : "Saya sangat sibuk melayani ibu saya." Al-Khulwani kemudian berkata : "Kamu akan dapat karunia umur panjang, tetapi kamu tidak akan mendapat anugrah nikmatnya belajar." Ternyata hal itu memang terbukti Syekh Abu Bakar lebih banyak tinggal di desa dan tidak teratur dalam belajar.

Maka barang siapa membuat sakit hari gurunya, maka ia tidak akan mendapatkan berkah ilmu dan tidak dapat memanfaatkan ilmunya kecuali hanya sedikit, sebuah syair mengungkapkan :

  • "Sesungguhnya guru dan dokter tidak akan berguna nasihatnya bila tidak dihormati.

  • Bersabarlah dengan penyakitmu bila kamu menentang dokter. Dan bersabarlah kamu dengan kebodohanmu bila kamu menentang guru."


Dikisahkan, bahwa Khalifah Harun al-Rasyid mengutus putranya kepada al-Ashama'i agar diajarkan ilmu dan tatakrama. Pada suatu hari Khalifah melihat al-Ashama'i berwudhu dan membasuh kakinya, sementara putra Khalifah menyiramkan air pada kakinya, Khalifah pun menegur pada al-Ashama'i, katanya : "Saya mengutusnya kepadamu agar kamu mengajarinya ilmu dan tatakrama kepadanya, mengapa kamu tidak menyuruhnya menyiramkan air dengan salah satu tangannya dan membasuh kakimu dengan tangannya yang lain ?."



Subcribes

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Shoutbox


ShoutMix chat widget

Pagerank

Powered by  MyPagerank.Net
 

Profile

بسم الله الر حمن الر حيم ؛ الحمد لله رب العلمين

Others

     Tuntutlah ilmu, karena ilmu merupakan perhiasan bagi pemiliknya, keunggulan dan pertanda segala pujian.
     Jadikanlah dirimu seorang yang selalu menambah ilmu setiap hari, dan berenanglah di lautan makna.
     Belajarlah ilmu fikih, karena fikih merupakan penuntun yang baik menuju kebaikan dan ketakwaan serta tujuan paling tepat.
     Ia menjadi bendera yang menunjukan kepada jalan menuju tujuan. Ia menjadi benteng yang menyelamatkan dari segala kesesatan.
     Seorang ahli fikih yang teguh lebih berat bagi setan dibanding seribu ahli ibadah (yang tidak berilmu).
Widget by Blogger Tune-Up

SCIENCE

Tuntutlah ilmu, karena ilmu merupakan perhiasan bagi pemiliknya, keunggulan dan pertanda segala pujian.
Jadikanlah dirimu seorang yang selalu menambah ilmu setiap hari, dan berenanglah di lautan makna.
Belajarlah ilmu fikih, karena fikih merupakan penuntun yang baik menuju kebaikan dan ketakwaan serta tujuan paling tepat.
Ia menjadi bendera yang menunjukan kepada jalan menuju tujuan. Ia menjadi benteng yang menyelamatkan dari segala kesesatan.
Seorang ahli fikih yang teguh lebih berat bagi setan dibanding seribu ahli ibadah (yang tidak berilmu).

Copyright © 2009 Fresh Themes Gallery | NdyTeeN. All Rights Reserved. Powered by Blogger and Distributed by Blogtemplate4u .